Tampilkan postingan dengan label Tauhid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tauhid. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Desember 2015

Oleh: Muharrahman BS, SHI

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmatnya kepada kita semuanya. Allah yang mayha pengasih, yang tidka pernah pilih kasih, walau hambaNya enggan dan bahkan banyak yang tidak pernah berterima kasih kepada-Nya. Allah yang Maha Penyayang, yang sayangNya Allah tidak sanggup kita hidung dan juga tidak sanggup kita bilang, walaupun hamba-Nya enggan dan bahkan tidak pernah melaksanakan sembahyang kepada Nya.

Selawat dan salam kepada Rasulullah Muhammad SAW. Ia datang dengan membawa Agama Islam, ia adalah penutup para Nabi dan Rasul, tidak ada Nabi setelah wafatnya Rasulullah SAW. Semoga kita menjadi ummatnya yang selalu menjalankan sunnahnya. Amin


Ikhwanfillah...

Apa kabar antum semua? Semoga selalu diberi hidayah oleh Nya. Semoga kita semuanya termasuk hamba yang selalu bersyuykur, sehingga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang bertaqwa, yang memelihara diri dari segala bentuk maksiat kepada-Nya.

Ikhwan fillah... marilah sama-sama sebentar kita merenungi beberapa ayat Allah berikut. Semoga kita bisa mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, dan semoga kita bisa konsisten mengamalkannya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Qs. Ali Imra02)

Pada ayat di atas, Allah menyampaikan dua pesan kepada kita semuanya. Yang pertama adalah Allah menyuruh kita untuk terus bertaqwa kepada-Nya dengan benar. Sedangkan yang kedua adalah Allah menyampaikan kepada kita agar kita meninggal dalam keadaan islam, yaitu selamat dari azabnya. Semoga kita terlindung dari hal demikian.

Pada tulisan ini, mari sama-sama kita reungkan salah satu dari dua pesan tersebut, yaitu taqwa. Taqwa bermakna memilihara diri dari siksa Allah dengan mengikuti segala perintahNya dan menjauhi segala apa yang dilarangNya. Taqwa juga bermakna ridha, dengan jalan menerima dan ikhlas dengan hukum – hukum dan ketentuan Allah. Taqwa juga bermakna melaksanakan ketaatan di atas cahaya dari Allah dan juga meninggalkan maksiat kepada Allah di atas cahaya dari Allah, karena takut terhadap hukum-Nya. Ali bin Abi Thalib menyatakan ; taqwa adalah takut kepada Allah yang Maha Agung, mengamalkan Al Quran dan Sunnah Rasulullah dan Ridha atas pemebrian rezki yang sedikit dan mempersiapkan diri untuk perjalanan negeri akhirat.

Taqwa adalah derajat paling tinggi di sisi Allah. Dan sebaik-baik bekal adalah Taqwa:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. (Al Baqarah: 192)

Dan Allah akan mengeluarkan orang yang bertaqwa dari segala kesusahan hidup:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (Ath Thalaq: 2)

Dan Allah juga akan memberikan rizki dengan jalan yang tidak disangka-sangka bagi orang yang bertaqwa.

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.(QS. Ath-Thalaq: 3)

Pertanyaannya adalah; apakah kita termasuk orang yang bertaqwa.? Apakah prilaku kita sudah mencerminkan sebagai orang yang bertaqwa? Mari kita lihat apa yang telah di sampaikan Allah dalam Al Quran Surat Al Baqarah pada ayat 2 – 4:

Pertama; orang yang bertaqwa adalah yang beriman dengan yang ghaib, yaitu Allah. Tidak ada syak, tidak ada keraguan dalam hati kita, tidak juga ada dhan dalam ahti kita. Seorang yang bertaqwa yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah adalah Tuhah seluruh Alam yang patut dipuji dan patut disembah.

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ

Orang yang bertaqwa adalah yang beriman dengan yang ghaib (Allah).

Kedua; orang yang bertaqwa adalah siapa saja yang mendirikan sholat kepada-Nya. Shalat adalah pembeda antara orang muslim dengan kuffar. Shalat adalah adalah amal yang pertama sekali ndihisab di hari akhirat. Sholat adalah pembenteng tubuh kita agar selalu berbuat ketaatan kepada-Nya. Shalat adalah pembenteng diri kita agar tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh-Nya. Orang yang bertqwa adalah mereka yang istiqamah dalam shalatnya.

وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ

Orang yang bertaqwa adalah mereka yang mendirikan shalat.

Ketiga; orang yang bertaqwa adalah siapa saja yang menginfakkan sebahagian harta yang Allah karuniakan kepada orang yang berhak menerimanya, yaitu fakir dan miskin, kaum dhuafa, muallaf yang dilembutkan hatinya, orang yang berjuang pada jalan Allah, ibnu Sabil, Amil, orang yang berutang. Hendaknya rezki yang Allah karuniakan, kita infakkan kepada jalan-Nya agar harta yang ada ditangan kita menjadi berkah.

وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Orang yang bertaqwa adalah yang menafkahkan sebahagian harta yang Allah berikan kepada orang yang berhak menerimanya.

Keempat; orang yang bertaqwa adalah mereka yang beriman kepada apa yang telah Allah turunkan kepada Rasulullah berupa Al-Quran, dan juga apa yang diturunkan kepada nabi-nabi sebelumnya, yaitu ada Taurat, Ada Zaburm dan ada Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa as.

وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ

Orang yang bertaqwa adalah yang beriman kepada apa yang telah Allah turunkan (Al Quran) dan juga beriman kepada apa yang diturunkan pada nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad (Zabur, Taurat dan Injil)

Ikhwanfillah... Adapun yang kelima adalah orang yang bertaqwa adalah yang beriman kepada hari akhirat. Setiap kita harus yakin bahwa hari akhirat itu ada. Kita harus yakin bahwa amal yang kita lakukan didunia akan dihisab oleh Allah. Tidak ada yang luput dari catatan yang ditulis malaikat-Nya Rakib dan Atid.

وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

Orang yang bertaqwa itu adalah mereka yang beriman kepada hari akhirat, serta mereka yakin terhadap hal itu.

Ikhwanfillah... hanya Mereka yang bertaqwa itulah yang mendapat petunjuk dari Allah Dan mereka itulah yang mendapat kemenangan.

Jumat, 18 September 2015

Oleh: ‘Utsman bin ‘Abdullah bin ‘Aqil bin Yahya
Editor: Muharrahman BS, SHI

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, yang melengkapi akan segala nikmat-Nya yang sangat indah. Selawat dan salam yang sempurna semoga kesejahteraan yang sempurna atas penghulu kita Nabi Muhammad SAW serta kepada keluarganya dan sahabatnya sekalian. Adapun nikmat Allah yang sangat besar itu, yang diberikan Allah kepada hamba Nya adalah nikmat Iman dan nikmat Islam. Karena kedua nikmat ini telah dijadikan oleh Allah Azza wa Jalla sebagai sebab dimasukkan seseorang ke dalam syurga dengan kekal di dalamnya.

Dengan Iman dan Islam juga serta taat akan Allah seseorang akan diselamatkan dari siksa neraka. Maka wajiblah atas tiap mukhallaf, untuk mengetahui akan segala rukun Islam yang lima. Demikian juga seorang mukhallaf wajib mengetahui serta mengamalkan segala rukun iman yang enam. Hal ini berguna untuk menambah rasa syukur kepada Allah Azza wa Jalla dengan mengamalkan ilmu tersebut. Suatu amalan akan terhenti maqbulnya jika kedua rukun tersebut tidak diamalkan.

Adapun ilmu mengetahui rukun Islam yang pertama adalah mengetahui akan makna dua kalimah syahadat. Hal ini disebut sebagai ilmu Ushuluddin dan ilmu Tauhid. Dan inilah yang dikehendaki dalam tulisan ini. Maka wajiblah atas tiap mukhallaf bahwa ia mengenal akan Rabb Azza wa Jalla dengan segala sifatNya yang wajib, yang mustahil, serta yang harus pada-Nya. Demikian pula segala sifat yang wajib bagi Rasul, yang mustahil serta sifat yang harus. Dan ini juga termasuk makna dari dua kalimah syahadat itu sendiri.

Adapun ilmu mengetahui rukun Islam yang 4 lagi (selain syahadatain) merupakan bahagian dari ilmu Fiqh. Maka wajib pula bagi setiap mukhallaf untuk mengetahui akan ilmu tersebut, seperti ilmu tentang shalat, puasa dan segala yang berkaitan dengannya. Demikian juga amalan-amalan yang sunnah atau segala ilmu syariah lainnya yang hendak dilaksanakan. Hendaknya dipelajari terlebih dahulu. Karena apabila suatu amalan yang dikerjakan tanpa mempunyai ilmunya atau dengan jahil dianggap tidak sah. Seperti disebutkan di dalam kitab Zubad:

وكل من بغير علم يعمل، أعماله مردودة لاتكمل

Artinya: “Setiap orang yang beramal tanpa ilmu, maka amalannya itu dikembalikan kepadanya, yakni tidak sempurna”

Pertanyaannya adalah, kenapa harus mengetahui hal tersebut? Hal ini berdasarkan dalil yang tersebut dalam hadits Rasulullah SAW:

طلب العلم فرضة على كل مسلمين ومسلمات

Artinya: “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim laki-laki dan perempuan”

Adapun mengetahui akan Allah Azza wa Jalla adalah lebih dahulu dibandingkan dengan hal lain. Seperti yang tersebut di dalam kitab Zubad:

اول واجب على الإنسان معرفة الإله بإستقان.

Artinya: “Permulaan yang wajib atas manusia adalah mengenal akan Allah dengan yakin.

Juga disebutkan di dalam Khuthbah lil-Habib Thahir Husain:

فاعلموا أيها الإخوان ان الأصل والأساس هو معرفة المعبود قبل العبادة وذلك حقيقة معنى الشهادة

Artinya: “Ketahulilah oleh-mu, bahwa asal agama itu adalah mengetahui Tuhan (yaitu Allah) yang patut disembah sebelum melaksanakan ibadah kepada-Nya. Dan adalah pengetahuan itu merupakan hakikat dari makna kalimah syahadat.”

Apabila telah diketahui kewajiban ma’rifah akan Allah swt atas setiap mukhallaf, maka ketahuilah bahwa ma’rifah adalah i’tikad yang jazam lagi muwafiq pada haq dengan dalil. Jazam bermakna i’tikad yang putus, yang tidak ada syak lagi, tidak ada sangkaan adaNya Allah. Adapun jazam itu terbagi dalam empat bahagian, yaitu:

1. Jazam muwafiq pada haq dengan dalil, maka inilah yang dinamakan ma’rifah
2. Jazam muwafiq pada haq, akan tetapi tidak dengan dalil, maka inilah yang dinamakan taqlid shahih
3. Jazam tidak muwafiq pada haq dengan dalil, maka inilah yang dinamakan dengan jahil murakab
4. Jazam tidak muwafiq pada haq dan tidak dengan dalil, maka inilah yang dinamakan dengan taklid bathil

Adapun yang dimaksud dengan dalil adalah sesuatu yang menunjuki atas kebenaran suatu hal. Dalil wujudNya Allah swt dengan segala sifatNya adalah memadai dengan dalil ijmal. Yaitu keadaan bumi dan langit serta barang yang ada dalam keduanya. Allah swt berfirman:

Artinya: “ Sesungguhnya dalam kejadian langit dan bumi dan pergantian malam dan siang, sesungguhnya sekalian itu menjadi tanda-tanda keberadaan Allah bagi orang yang berfikir.”

Ayat ini menjadi dalil yang menunjuki kepada kita akan keberadaan Allah swt. Ia yang menjadikan semua itu. Hal ini hanya bisa diterima bagi orang yang berakal fikirin sehat. Adapun ma’rifah Allah dan ma’rifah Rasul terbagi dalam tiga pembahagian yang terhimpun dalam hukum ‘aqli, yaitu; wajib, mustahil serta jaiz. Oleh karena demikian, wajiblah mengetahui hal tersebut, yang di dalamnya terdapat sifat Allah yang dua puluh, ditambah dengan hukum Syar’i dan hukum ‘Adi. Yang in Syaa Allah akan dilanjutnya pada kesempatan lain.

Wallahu A’lam

Diambil dari kitab: Shifat Duapuluh

Selasa, 08 September 2015

Oleh: Muharrahman BS, SHI

Islam merupakan satu agama yang dibawa oleh seorang utusan Allah Nabi Muhammad Saw. Ia adalah utusan Allah yang terakhir di atas permukaan bumi ini, khataman nabiyyin. Tiada nabi setelah beliau. Hal ini merupakan akidah yang wajib diimani oleh seluruh manusia, walau hingga saat ini banyak orang, banyak kalangan, banyak kelompok yang mencoba mengaburkan akidah ini.

Islam adalah agama yang cinta damai, sesuai dengan arti dari Islam itu sendiri. Walau di sana sini banyak orang yang berargumentasi Islam adalah agama diskriminatif, bahkan dicap agama teroris. Hanya orang-orang yang tidak mengetahui saja yang beranggapan demikian. Namun jika dipahami dan dihayati dengan betul, Islam adalah rahmatal lil’alamin. Agama yang membawa rahmat, agama yang mebawa kelembutan, agama yang mebawa kesopanan, agama yang mengatur segala hukum, dari yang terbesar hingga yang sekecil mungkin.

Maka akan tentramlah bagi orang yang Islam, tentram damai di dunia dan juga dikehidupan setelahnya, yaitu negeri akhirat. Negeri yang kekal, tempat kembalinya semua makhluk yang telah Allah ciptakan sejak Nabi Adam as hingga kepada ummat akhir zaman, yaitu ummat Nabi Muhammad SAW.

Allah mengingatkan kita agar kita mati dalam keadaan selamat, damai, yaitu dalam keadaan Muslim. Itu artinya Allah ingatkan kita agar jangan sampai kita mati dalam keadaan non-muslim alias kufur kepada Allah. Seperti firman Allah dalam al-Quran pada surat Ali Imran ayat 102 berikut ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya, dan janganlah kamu meninggal kecuali jika kamu dalam keadaan muslim.

Islam itu laksana sebuah bangunan, bangunan yang sempurnan, yang tentunya kita tau betul bagaimana sebuah bangunan yang sempurna. Dalam hadits nya Rasulullah dihimpun dalam 5 pondasi, yaitu yang terhimpun dalam rukun Islam. Islam yang sempurna manakala 5 pondasi ini kita jalankan dengan baik dan benar sesuai syariat yang Allah tetapkan melalui sunnah RasulNya Muhammad SAW. Karena jika diamalkan tanpa tuntunan dari baginda Rasulullah, maka amalan yang dikerjakan menjadi sia-sia, artinya amalan yang kita laksanakan tidak dihitung sebagai pahala oleh Allah SWT.

Sesuai tuntunan Rasulullah di dalam haditsnya, 5 pondasi itu disebutkan bahwa:

عن أبي عبد الرحمن بن عبد الله بن عمر بن الخطاب رضي الله عنهما قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: بني الإسلام على خمس: شهادة ان لا اله الا الله وان محمدا رسول الله، وإقام الصلاة، وإيتاء الزكاة، وحج البيت، وصوم رمضان . (رواه البجارى و مسلم

Artinya: “Dari Abdurrahman Abdullah bin Umar bin Al-Khattab ra. Ia berkata; Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda; Islam dibangun diatas 5 (lima) hal, yaitu: Bersaksi tidak ada Tuhan yang patut disembah dengan benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, naik haji, dan puasa Ramadhan.” (HR. bukhari dan Muslim)

Di antara metode mengajar yang biasa dipraktekkan Rasulullah adalah membuat perumpamaan untuk sesuatu yang abstrak dengan perkara yang dapat dicerna oleh panca indra. Dalam hadits diatas Rasulullah mengumpakan 5 hal ini dengan kata bangunan, yaitu (بني). Dan seseorang yang beragama islam hendaknya membangun 5 hal ini dengan kuat. Jika sebuah bangunan itu terbuat dengan material yang rapuh, maka dipastikan bangunan itu akan roboh diterpa gempa, lautan, bahkan angin pun. Sehingga dari hadits di atas hendaknya membuat 5 hal itu dengan kuat, agar tidak mudah roboh.

Jika seseorang hendak membuat sebuah bangunan, hendaknya pondasi yang dibuat sebagai dasarnya harus sangat kuat. Agar bangunan diatasnya bisa ditahan, walau seberat apapun ia. Hal ini dikarenakan sebuah bangunan yang kokoh bermula dari sebuah pondasi. Bangunan akan semakin kokoh dan kuat jika pondasinya kuat. Sebaliknya, jika pondasinya tidak sempurna, maka yang akan terjadi adalah bangunan akan roboh, cepat atau lambat. Hal ini tergambarkan pada haditsnya Nabi di atas, yaitu dua kalimah syahadat, syahadat tauhid dan syahadat rasul, شهادة ان لا اله الا الله وان محمدا رسول الله. Maka hendaknya seorang muslim memiliki pondasi ketauhidan yang sempurna, tanpa syak (keraguan), tanpa dhan.

Kalimat tauhid ini adalah awal dari ajaran Islam, yaitu kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Nya. Kalimat ini tidak hanya sekadar kesaksian biasa. Tidak sama dengan pemberitahuan seseorang kepada temannya. Kalimat ini merupakan kesaksian yang bermakna pernyataan bahwa kebenaran adalah benar dan kebatilan adalah batil. Ia merupakan kesaksian bahwa dalam hidup ini seseorang menafikan segala bentuk kemusyrikan dan hanya mengakui keberadaan Tuhan Yang Maha Esa, yaitu Allah SWT.

Kalimat tauhid لا اله الا الله pada hadits di atas hendaknya tertanam dalam qalbu seorang muslim dengan sangat kuat, layaknya akar sebatang pohon yang menancap dalam ke tanah. Walaupun pohonya sangat tinggi, akan tetapi akarnya yang menancap dalam, maka pohon tersebut tidak akan roboh. Namun jika akar pohon tersebut tidak menancap dalam, pohon yang rendahpun akan roboh. Kalimat tauhid لا اله الا الله hendaknya juga diulang-ulang melalui lisan seorang muslim dan dijadikan zikir harian. karena, disamping untuk memperkuat ketauhidan, juga menjadi zikir bagi yang mengucapkan.

Imam Ahmad meriwayatkan Bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda; “ucapkanlah لا اله الا الله pasti kalian akan beruntung”. Abu Dzar bertanya kepada Rasulullah; Wahai Rasulullah! Beritahu aku tentang amalan yang bakal mendekatkanku ke syurga dan menjauhkanku dari neraka. Rasulullah menjawab; “Jika kamu telah berbuat buruk, kerjakanlah kebaikan, sebab ia sebanding dengan 10 kebaikan”. Abu Dzar bertanya lagi. Apakah لا اله الا الله termasuk kebaikan? Rasulullah menjawab; “bahkan sebaik-baik kebaikan” Imam Bukhari dan Imam Muslim mengabarkan dari Itban bin Malik, bahwa Rasulullah bersabda; Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan لا اله الا الله, yang mana orang tersebut adalah orang yang mengharapkan wajah Allah. Kalimat tauhid ini juga bisa mengantarkan seseorang ke dalam syurga bagi siapa saja yang bisa mengucapkan diakhir hayatnya.

Syahadat bukan hanya sebagai bukti iman. Ia juga sebagai dasar dari sikap dan prilaku seseorang. Syahadat merupakan pembuktian dari apa yang di-tashdiq-kan di dalam hati seseorang dan menjadi kenyataan dalam hidup dan kehidupan. Syahadat juga sebagai panji kehidupan yang terparti dalam jiwa, yaitu jiwa yang mengenal akan Rabb nya. Kemana pun jiwa itu pergi, maka di situlah kehadiran Nya.

لا اله الا الله adalah kalimat sebaik-baik zikir kepada Allah Azza wa Jalla. Kalimat tauhid لا اله الا الله adalah sebaik-baik ucapan diantara banyak jenis perbuatan yang mengandung nilai keimanan. Persaksian لا اله الا الله akan sah dengan cara menafikan segala sesuatu sesembahan yang ada di jagad raya ini, kecuali Allah. Seorang muslim wajib menetapkan Allah sebagai satu-satunya Dzat yang berhak diibadahi dengan sebenar-benarnya. Dan setiap muslim yang bersaksi bahwa hanya Allah sebagai Rabbnya hendaknya mengetahui maknanya dalam hati terhadap apa yang diucapkan lisannya.

Kesaksian وان محمدا رسول الله sebenarnya telah cukup dengan kesaksian لا اله الا الله . Iman kepada Allah dengan sendirinya menuntut seseorang kepada iman seluruh Nabi Nya. Muhammad Ghazali menyebutkan; barang siapa yang beriman kepada salah seorang Rasul dan ingkar kepada yang lainnya, sejatinya ia telah ingkar kepada seluruhnya, ingkar pula kepada Allah. Tidak ada bedanya antara Isa, Musa, Muhammad dan Rasul lainnya.

Adapun makna “aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah rasul Allah” ialah aku berjanji akan menjadikan kehidupan Muhammad sebagai panutan, berpegang pada sunnahnya, dan bernaung di bawah panjinya. Nabi Muhammad adalah manusia biasa yang dipilih oleh Allah untuk menyampaikan syari’at-Nya, agar ia menjadi pimpinan barisan orang-orang yang mau kembali kepada Rabbnya. Nabi Muhammad seperti manusia biasa yang menerima wahyu dari Allah untuk memberi peringatan kepada manusia, yaitu pada jalan kebenaran. Nabi Muhammad seorang laki-laki yang lurus perasaannya, yang kehidupan jiwanya tidak pernah mengalami sakit atau gangguan. Ia seorang suami, ayah, pedagang, pejuang, bisa kaya, bisa miskin, bisa menang dan bisa kalah, sedih dan bahagia, rela dan marah.

Nabi Muhammad memiliki pola hidup yang teratur, ia hidup dalam kekhusyukan, perjuangan dan sungguh-sungguh membela ajaran Allah Azza wa Jalla. Ia layak dijadikan contoh dan panutan, sebagai suri tauladan yang baik. Hendaknya seorang muslim mengambil pelajaran dari kehidupannya yang agung. Perlu diyakini dengan sungguh-sungguh akan kerasulannya. Oleh karena nabi Muhammad adalah seorang manusia yang diangkat Allah menjadi seorang Rasul di atas permukaan bumi ini dari jenis manusia. Bahkan Allah menukilkan di dalam al-Quran, jika seandainya penduduk bumi adalah dari kaum malaikat, maka Allah akan mengirim seorang Rasul dari jenis Malaikat itu sendiri.

Orang yang beriman adalah yang percaya, yang yakin kepada Allah dan juga percaya dan yakin kepada RasulNya. Dan mereka itu tidak merasa ragu dengan hal itu. Mereka yang beriman itu juga berjuang pada jalan Allah, mereka berjihad, dengan harta bahkan dengan jiwa mereka. Mereka inilah yang benar tauhidnya. Orang yang meyakini kalimah syahadatain itu benar-benar meyakini tanpa keraguan sedikitpun.

Seseorang yang bersyahadat hendaknya mengucapkannya dengan kejujuran, bukan kedustaan. Lisannya sesuai dengan apa yang ada dalam qalbunya. Jika tidak bersesuaian maka dia dianggap seorang munafik yang siksanya lebih dasyat dibanding seorang kafir. Syahadatain itu hendaknya benar-benar diterima secara sempurna; baik dengan hati, lisan maupun anggota badan.

Jika seseorang yang telah yakin tanpa keraguan sedikitpun, maka hendaknya ia tunduk dan patuh serta beserah diri terhadap apa saja yang menjadi ketentuan syahadatain itu. Karena banyak yang mengucapkan kalimat tauhid itu, namun enggan mengerjakan perintah Allah dan rasulNya. Kembalilah kepada Allah dan berserah dirilah kepadaNya. Karena jika seseorang berserah diri kepada Allah, dan ia berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang teguh kepada tali Allah. Karena kesudahan dari semuanya adalah kepada Allah.

Artinya: “ Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerah diri kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan”. (QS. An-Nisa: 125)

Kalimat tauhid yang diibaratkan sebagai pondasi bangunan harus ditempatkan pada posisi sebagai pimpinan dalam kehidupan seorang muslim. Pada kalimat itulah tertumpu berbagai ketaatan yang diajarkan Islam, karena Islam adalah ketundukkan sepenuhnya kepada Allah. Hendaknya seorang yang mengaku muslim meninggalkan kemaksiatan, Karena hal itu bertentangan dengan arti hakiki dari ketundukkan.


Wallahu a’lam

Minggu, 23 Agustus 2015

Oleh: Muharrahman BS, SHI

Kalimat judul artikel ini sering kita dengar di lingkungan kita berada. Ada yang disampaikan oleh saudara, tetangga, guru, ustadz/h dan yang paling sering kita dengar adalah dari sang penceramah atau da’I serta para alim ulama. Kalimat yang terdengar sederhana ini namun cukup besar makna yang dikandung di dalamnya;

من عرف نفسه فقد عرف ربه

“Barang siapa mengenal dirinya, maka dia mengenal Rabb nya”

Sebahagian orang mengatakan bahwa kalimat di atas adalah hadits. Namun jika merujuk kepada sumbernya, pernyataan ini bukanlah sebuah hadist dari Rasulullah SAW. Ini adalah sebuah ungkapan seorang ulama. Menurut keterangan yang dapat dipertanggungjawabkan adalah pernyataan dari Yahya bin Mu’adz al-Razi.

Ibnu As-Sam’ani Rahimallah berkata; “Hadits ini tidak diketahui secara marfu’ (dari ucapan Rasulullah SAW), namun dikisahkan dari ucapan Yahya bin Mu’adz al-Razi. Imam An-Nawawi berkata; Hadits ini tidak tsabit/shahih dari Rasulullah. Selanjutnya Imam Ibnu Timiyyah berkata; bahwa kalimat ini merupakan hadits maudhu’. Demikian juga Al-‘Allamah al-Fairuuz Abaadiy berkata; bahwa hadits ini tidak berasal dari hadits-hadits Nabawiy, namun banyak manusia yang menjadikannya sebagai hadits yang dinisbatkan kepada Nabi Shallahu ‘Alaihi Wassalm, tidak shahih asal usulnya, melainkan ia diriwayatkan israilliyat.

Dalam kitab Hilyatul Auliyaa 10/208, perkataan ini juga dihikayatkan dari perkataan Sahl bin ‘Abdillah at-Tautariy dan dinukil tanpa sanad. Ibnu Hajar al-Haitami al-Makkiy dalam kitab Fatawa 1/677 telah ditanya mengenai hadist ini: dan beliau menjawab bahwa tidak ada asal-usulnya, melainkan dihikayatkan dari kalam Yahya bin Mu’adz al-Razi ash-Shufiy, maknanya adalah barang siapa mengenal dirinya dengan kelemahan, kefakiran, kekurangan, kehinaan, dan kerapuhan, maka ia telah mengenal Tuhannya dengan sifat keagungan Nya dan keindahanNya atas apa yang diharuskan ada pada keduanya.

Demikian sekilah asal-usul kalimat di atas. Sengaja penulis nukilkan terlebih dahulu agar nantinya menambah wawasan keislaman kita. Semoga Allah meridhai kita semuanya hingga yaumil akhir. Amin

Terlepas dari apakah itu hadist atau tidak, artikel yang sedang pembaca nikmati ini bukan sekedar menjelaskan sumber pernyataan tersebut, akan tetapi artikel ini coba penulis suguhkan buat kita semuanya tentang apa dibalik dari makna kalimat itu. Penulis yakin sobat semuanya sudah mengetahuinya, namun artikel ini coba penulis suguhkan dari sisi yang berbeda.

Mari kita ulang kembali pernyataan di atas; “Barang siapa mengenal dirinya, maka sungguh ia mengenal akan Tuhannya. Kalimat ini sangat sederhana bukan? Pernahkah kita merenungkan pernyataan ini? Kalimat ini meminta kita agar kita mengetahui diri kita sendiri supaya kita mengenal Allah SWT, Rabb kita, yang menciptakan manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan serta alam sementas ini. Sehingga timbul perenungan yang dalam. Dari apa kita diciptakan? Dan untuk apa kita diciptakan?

Sobat handai taulan, pertanyaan di atas sungguh sederhana bukan? Namun sudah sejauh mana kita memahami pertanyaan itu? Mari kita pahami dengan hati yang lapang seraya berdoa semoga Allah memberikan ilmu kepada kita sehingga kita bisa mengenal Allah dengan sebenarnya. In Syaa Allah...

Mari kita lihat sekilas tubuh kita yang sempurna ini. Sudahkan sobat melihatnya? Sempurna bukan? Dari kepala hingga kaki, Allah ciptakan sangat sempurna. Rambut yang hitam, kepala yang sempurna, tidak bulat dan tidak terlalu lonjong, telinga yang sempurna dengan sepasang daunnya, hidung yang sempurna dengan dua lobangnya, ada yang mancung dan ada yang pesek namun tetap sempurna, sepasang mata yang indah dipandang, ada yang kecoklatan dan ada juga yang kebiruan yang dihiasi dengan warna putih, sungguh sangan sempurna. Gigi yang putih, dengan sangat teratur Allah ciptakan sesuai dengan fungsinya masing-masing, dua pasang tangan dan kaki yang sempurna dengan berbagai organnya. Kemudian, coba kita lihat bagian dalamnya, otak yang super luar biasa, jantung yang terus memompa darah keseluruh tubuh tanpa hentinya, paru-paru yang terus bekerja tanpa berhenti sedetikpun untuk menyeimbangi pernafasan, kantong empedu, dan usus yang terus bekerja siang malam melebihi kerja mesin diesel listrik, saraf dan lain-lainya yang tidak bisa kita sebutkan hingga sel dari elemen tubuh paling kecil. Sangat sempurna, kesempurnaan yang tiada tara, kesempurnaan yang tiada lawan dibandingkan ciptaan manusia. Itulah cipta Allah SWT.

Allah sangat sempurna menciptakan tubuh manusia dibanding makhluk lainnya, sekalipun itu Malaikat. Namun perlu kita ingat bahwa manusia bisa saja lebih hina dibandingkan binatang atau iblis sekalipun, jika manusia itu tidak merenungi akan penciptaannya. Allah ciptakan manusia dari tidak ada menjadi ada. Manusia adalah makhluk-Nya yang mulia jika berkomitmen dengan tujuan diciptakan. Karena perjalanan hidup kita bukan hanya di dunia melainkan akan berakhir sampai alam akhirat. Ketahuilah! Bahwa hidupnya kita di dunia ini atas kehendakNya dan akhir dari kehidupan manusia di dunia ini juga bukan kehendak manusia, melainkan kehendak Rabb yang Mahaperkasa, Allah SWT.

Kemuliaan manusia bermula ketika Allah menghendaki akan penciptaan Adam as. sebagai khalifah-Nya di atas muka bumi ini dengan misi ibadah kepada-Nya sekaligus sebagai khalifah-Nya. Kehendak Allah ini berdasarkan ilmu dan perencanaan yang sangat matang. Oleh karena itu, ketika para malaikat mempertanyakan rencana Allah tersebut, Allah menjawabnya dengan firmannya; “Sungguh Aku mengetahui apa yang kalian tidak ketahui”(Qs. Al-Baqarah: 30). Allah memberikan kemuliakan kepada manusia tidak hanya karena subjectivitas Tuhan Yang Mahakuasa, akan tetapi kemuliaan itu diberikan terkait standar ilmiah rancangan penciptaan manusia itu sendiri. Baik itu fisik maupun non fisik, seperti akal, hati (qalbu), tanpa kehilangan syahwat dan nafsu hayawani. Manusia dianugerahkan kelebihan yang sempurna yang tidak diberikan Allah secara utuh dan lengkap kepada makhluk selain manusia. Di dalam al-Quran surat Al-Isra’ayat 70 ditegaskan bahwa Allah telah muliakan manusia, Allah angkat manusia di daratan dan di laut, Allah berikan rezki dari yang baik-baik dan Allah jualah yang telah memberikan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Allah ciptakan.

Dimensi penciptaan manusia dengan fisik amat sempurna yang harusnya menambah kedekatan kita kepada Allah, ditambah dengan dimensi spritual yang harusnya terus membawa kita semakin dekat dengan Allah, dan juga ditambah dengan dimensi emosional yang seharuskan hati kita terpaut pada Allah dengan kebiasaan hidup dengan akhlak yang hasanah. Selanjutnya manusia dilengkapi dengan dimensi intelektual yang tempatnya adalah bagian otak manusia, yang berfungsi sebagai pelita kehidupan dengan kebutuhan gizi; ilmu yang bermanfaat, khususnya ilmu mengenal kepada Rabbul Izzati, Tuhan sekalian alam, yaitu Allah SWT.

Jika kita merenungi hal itu, sudahkan kita bersyukur? Bukankah kita hamba yang lemah? Bukankah ilmu kita hanya secuil dibanding ilmu Allah? Adakah yang bisa menciptakan hal serupa seperti ciptaan Allah itu? Tidak ada, tidak ada sobat. Belum lagi jika kita merenungi akan Ruh yang Allah berikan dalam jasad kita ini dan insya Allah kita bahas paa artikel selanjutnya. Yang tidak seorang pun tahu dimana dan seperti apa ruh yang Allah titipkan dalam tubuh kita ini. Sungguh luar biasa. Mari kita renungi hal ini, sehingga semakin mendekatkan kita kepada Allah SWT. Dan tentunya mendapatkan seperti doa yang selalu panjatkan setiap hari, yaitu sukses dunia akhirat, sukses di atas segala jenis kesuksesan yang diidamkan setiap manusia:

ربنا أتنا فى الدنيا حسنة وفى الأخرة حسنة وقنا عذاب النار

Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.


Demkian artikel ini dibuat, semoga bermanfaat...

Wallahu a’lam