Selasa, 25 Agustus 2015

KADO BUAT YANG MAU DAN SIAP MENIKAH..BARAKALLAHU !!
By : 4121X13

Latar Belakang

Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati, saya cintai dan sayangi, semoga Allah selalu memberkahi langkah-langkah kita dan tidak putus-putus memberikan nikmatNya kepada kita. Amin

Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati..sebagai hamba Allah, saya telah diberi berbagai nikmat. Maha Benar Allah yang telah berfirman : "Kami akan perlihatkan tanda-tanda kebesaran kami di ufuk-ufuk dan dalam diri mereka, sehingga mereka dapat mengetahui dengan jelas bahwa Allah itu benar dan Maha Melihat segala sesuatu".

Nikmat tersebut diantaranya ialah fitrah kebutuhan biologis, saling membutuhkan terhadap lawan jenis.. yaitu: Menikah ! Fitrah pemberian Allah yang telah lekat pada kehidupan manusia, dan jika manusia melanggar fitrah pemberian Allah, hanyalah kehancuran yang didapatkannya..Na'udzubillah ! Dan Allah telah berfirman : "Janganlah kalian mendekati zina, karena zina adalah perbuatan yang buruk lagi kotor" (Qs. Al Israa' : 32).

Ibunda dan Ayahanda tercinta..melihat pergaulan anak muda dewasa itu sungguh amat memprihatinkan, mereka seolah tanpa sadar melakukan perbuatan-perbuatan maksiat kepada Allah. Seolah-olah, dikepala mereka yang ada hanya pikiran-pikiran yang mengarah kepada kebahagiaan semu dan sesaat. Belum lagi kalau ditanyakan kepada mereka tentang menikah. "Saya nggak sempat mikirin kawin, sibuk kerja, lagipula saya masih ngumpulin barang dulu," ataupun Kerja belum mapan , belum cukup siap untuk berumah tangga¡¨, begitu kata mereka, padahal kurang apa sih mereka. Mudah-mudahan saya bisa bertahan dan bersabar agar tak berbuat maksiat. Wallahu a'lam.

Ibunda dan Ayahanda tersayang..bercerita tentang pergaulan anak muda yang cenderung bebas pada umumnya, rasanya tidak cukup tinta ini untuk saya torehkan. Setiap saya menulis peristiwa anak muda di majalah Islam, pada saat yang sama terjadi pula peristiwa baru yang menuntut perhatian kita..Astaghfirullah.. Ibunda dan Ayahanda..inilah antara lain yang melatar belakangi saya ingin menyegerakan menikah.


Dasar Pemikiran
Dari Al Qur¡¦an dan Al Hadits :

"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui." (QS. An Nuur (24) : 32).

"Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah." (QS. Adz Dzariyaat (51) : 49).

¨Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui¡¨ (Qs. Yaa Siin (36) : 36).

Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik (Qs. An Nahl (16) : 72).

Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Qs. Ar. Ruum (30) : 21).

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi pelindung (penolong) bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Qs. At Taubah (9) : 71).

Wahai manusia, bertaqwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu yang telah menjadikan kamu satu diri, lalu Ia jadikan daripadanya jodohnya, kemudian Dia kembangbiakkan menjadi laki-laki dan perempuan yang banyak sekali. (Qs. An Nisaa (4) : 1).

Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan reski yang melimpah (yaitu : Surga) (Qs. An Nuur (24) : 26).

..Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja..(Qs. An Nisaa' (4) : 3).

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukminah apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sesungguhnya dia telah berbuat kesesatan yang nyata. (Qs. Al Ahzaab (33) : 36).

Anjuran-anjuran Rasulullah untuk Menikah : Rasulullah SAW bersabda: "Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku !"(HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.).

Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan menikah (HR. Tirmidzi).

Dari Aisyah, "Nikahilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu¡¨ (HR. Hakim dan Abu Dawud). 14. Jika ada manusia belum hidup bersama pasangannya, berarti hidupnya akan timpang dan tidak berjalan sesuai dengan ketetapan Allah SWT dan orang yang menikah berarti melengkapi agamanya, sabda Rasulullah SAW: "Barangsiapa diberi Allah seorang istri yang sholihah, sesungguhnya telah ditolong separoh agamanya. Dan hendaklah bertaqwa kepada Allah separoh lainnya." (HR. Baihaqi).

Dari Amr Ibnu As, Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya ialah wanita shalihat.(HR. Muslim, Ibnu Majah dan An Nasai).

"Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim) : a. Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah. b. Budak yang menebus dirinya dari tuannya. c. Pemuda / i yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram."

"Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara." (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas'ud).

Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak (HR. Abu Dawud).

Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain (HR. Abdurrazak dan Baihaqi).

Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan) (HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah).

Rasulullah SAW. bersabda : "Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah" (HR. Bukhari).

Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup membujang (HR. Abu Ya¡¦la dan Thabrani).

Dari Anas, Rasulullah SAW. pernah bersabda : Barang siapa mau bertemu dengan Allah dalam keadaan bersih lagi suci, maka kawinkanlah dengan perempuan terhormat. (HR. Ibnu Majah,dhaif).

Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka (Al Hadits).


Tujuan Pernikahan
1. Melaksanakan perintah Allah dan Sunnah Rasul.
2. Melanjutkan generasi muslim sebagai pengemban risalah Islam.
3. Mewujudkan keluarga Muslim menuju masyarakat Muslim.
4. Mendapatkan cinta dan kasih sayang.
5. Ketenangan Jiwa dengan memelihara kehormatan diri (menghindarkan diri dari perbuatan maksiat / perilaku hina lainnya).
6. Agar kaya (sebaik-baik kekayaan adalah isteri yang shalihat).
7. Meluaskan kekerabatan (menyambung tali silaturahmi / menguatkan ikatan kekeluargaan)

Kesiapan Pribadi
1. Kondisi Qalb yang sudah mantap dan makin bertambah yakin setelah istikharah. Rasulullah SAW. bersabda : Man Jadda Wa Jadda¨ (Siapa yang bersungguh-sungguh pasti ia akan berhasil melewati rintangan itu).
2. Termasuk wajib nikah (sulit untuk shaum)
3. Termasuk tathhir (mensucikan diri).
4. Secara materi, Insya Allah siap. Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya¨ (Qs. At Thalaq (65) : 7)

Akibat Menunda atau Mempersulit Pernikahan
Kerusakan dan kehancuran moral akibat pacaran dan free sex.
Tertunda lahirnya generasi penerus risalah.
Tidak tenangnya Ruhani dan perasaan, karena Allah baru memberi ketenangan dan kasih sayang bagi orang yang menikah.
Menanggung dosa di akhirat kelak, karena tidak dikerjakannya kewajiban menikah saat syarat yang Allah dan RasulNya tetapkan terpenuhi.

Apalagi sampai bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Rasulullah SAW. bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia bersunyi sepi berduaan dengan wanita yang tidak didampingi mahramnya, karena yang menjadi pihak ketiganya adalah syaitan." (HR. Ahmad) dan "Sungguh kepala salah seorang diantara kamu ditusuk dengan jarum dari besi lebih baik, daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya" (HR. Thabrani dan Baihaqi).. Astaghfirullahaladzim.. Na'udzubillahi min dzalik.

Namun, umumnya yang terjadi di masyarakat di seputar pernikahan adalah sebagai berikut ini :
Status yang mulia bukan lagi yang taqwa, melainkan gelar yang disandang:Ir, DR, SE, SH, ST, dsb

Pesta pernikahan yang wah / mahar yang tinggi, sebab merupakan kebanggaan tersendiri, bukan di selenggarakan penuh ketawadhu'an sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. (Pernikahan hendaklah dilandasi semata-mata hanya mencari ridha Allah dan RasulNya. Bukan di campuri dengan harapan ridha dari manusia (sanjungan, tidak enak kata orang). Saya yakin sekali.. bila Allah ridha pada apa yang kita kerjakan, maka kita akan selamat di dunia dan di akhirat kelak.)


Pernikahan dianggap penghalang untuk menyenangkan orang tua.

Masyarakat menganggap pernikahan akan merepotkan Studi, padahal justru dengan menikah penglihatan lebih terjaga dari hal-hal yang haram, dan semakin semangat menyelesaikan kuliah.


Memperbaiki Niat :

Innamal a'malu binniyat....... Niat adalah kebangkitan jiwa dan kecenderungan pada apa-apa yang muncul padanya berupa tujuan yang dituntut yang penting baginya, baik secara segera maupun ditangguhkan.


Niat Ketika Memilih Pendamping

Rasulullah bersabda "Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya."(HR. Thabrani).

"Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin saja harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama". (HR. Ibnu Majah).

Nabi SAW. bersabda : Janganlah kalian menikahi kerabat dekat, sebab (akibatnya) dapat melahirkan anak yang lemah (baik akal dan fisiknya) (Al Hadits).

Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda, ¡§Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama." (HR. Muslim dan Tirmidzi). Niat dalam Proses Pernikahan.

Masalah niat tak berhenti sampai memilih pendamping. Niat masih terus menyertai berbagai urusan yang berkenaan dengan terjadinya pernikahan. Mulai dari memberi mahar, menebar undangan walimah, menyelenggarakan walimah. Walimah lebih dari dua hari lebih dekat pada mudharat, sedang walimah hari ketiga termasuk riya'. "Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan."(Qs. An Nisaa (4) : 4).

Rasulullah SAW bersabda : "Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya" (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih). Dari Aisyah, bahwasanya Rasulullah SAW. telah bersabda, "Sesungguhnya berkah nikah yang besar ialah yang sederhana belanjanya (maharnya)" (HR. Ahmad). Nabi SAW pernah berjanji : "Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya." (HR. Ashhabus Sunan). Dari Anas, dia berkata : " Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim dengan mahar berupa keIslamannya" (Ditakhrij dari An Nasa'i)..Subhanallah..

Proses pernikahan mempengaruhi niat. Proses pernikahan yang sederhana dan mudah insya Allah akan mendekatkan kepada bersihnya niat, memudahkan proses pernikahan bisa menjernihkan niat. Sedangkan mempersulit proses pernikahan akan mengkotori niat. "Adakanlah perayaan sekalipun hanya memotong seekor kambing." (HR. Bukhari dan Muslim)

Pernikahan haruslah memenuhi kriteria Lillah, Billah, dan Ilallah. Yang dimaksud Lillah, ialah niat nikah itu harus karena Allah. Proses dan caranya harus Billah, sesuai dengan ketentuan dari Allah.. Termasuk didalamnya dalam pemilihan calon, dan proses menuju jenjang pernikahan (bersih dari pacaran / nafsu atau tidak). Terakhir Ilallah, tujuannya dalam rangka menggapai keridhoan Allah. Sehingga dalam penyelenggaraan nikah tidak bermaksiat pada Allah ; misalnya : adanya pemisahan antara tamu lelaki dan wanita, tidak berlebih-lebihan, tidak makan sambil berdiri (adab makanan dimasyarakat biasanya standing party-ini yang harus di hindari, padahal tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW yang demikian), Pengantin tidak disandingkan, adab mendo'akan pengantin dengan do'a : Barokallahu laka wa baroka 'alaikum wa jama'a baynakuma fii khoir...(Semoga Allah membarakahi kalian dan melimpahkan barakah kepada kalian), tidak bersalaman dengan lawan jenis, Tidak berhias secara berlebihan ("Dan janganlah bertabarruj (berhias) seperti tabarrujnya jahiliyah yang pertama" - Qs. Al Ahzab (33),


Meraih Pernikahan Ruhani

Jika seseorang sudah dipenuhi dengan kecintaan dan kerinduan pada Allah, maka ia akan berusaha mencari seseorang yang sama dengannya. Secara psikologis, seseorang akan merasa tenang dan tentram jika berdampingan dengan orang yang sama dengannya, baik dalam perasaan, pandangan hidup dan lain sebagainya. Karena itu, berbahagialah seseorang yang dapat merasakan cinta Allah dari pasangan hidupnya, yakni orang yang dalam hatinya Allah hadir secara penuh. Mereka saling mencintai bukan atas nama diri mereka, melainkan atas nama Allah dan untuk Allah. Betapa indahnya pertemuan dua insan yang saling mencintai dan merindukan Allah. Pernikahan mereka bukanlah semata-mata pertemuan dua insan yang berlainan jenis, melainkan pertemuan dua ruhani yang sedang meniti perjalanan menuju Allah, kekasih yang mereka cintai. Itulah yang dimaksud dengan pernikahan ruhani. KALO KITA BERKUALITAS DI SISI ALLAH, PASTI YANG AKAN DATANG JUGA SEORANG (JODOH UNTUK KITA) YANG BERKUALITAS PULA (Al Izzah 18 / Th. 2)


Penutup

"Hai, orang-orang beriman !! Janganlah kamu mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah kepada kamu dan jangan kamu melampaui batas, karena Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas." (Qs. Al Maidaah (5) : 87).

Karena sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan. Dan sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Qs. Alam Nasyrah (94) : 5- 6 ). Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati, saya sayangi dan saya cintai atas nama Allah.. demikanlah proposal ini (secara fitrah) saya tuliskan. Saya sangat berharap Ibunda dan Ayahanda.. memahami keinginan saya. Atas restu dan doa dari Ibunda serta Ayahanda..saya ucapkan "Jazakumullah Khairan katsiira". "Ya Allah, jadikanlah aku ridho terhadap apa-apa yang Engkau tetapkan dan jadikan barokah apa-apa yang telah Engkau takdirkan, sehingga tidak ingin aku menyegerakan apa-apa yang engkau tunda dan menunda apa-apa yang Engkau segerakan.. YA ALLAH BERILAH PAHALA DALAM MUSIBAHKU KALI INI DAN GANTIKAN UNTUKKU YANG LEBIH BAIK DARINYA.. Amiin"

Salam Rindu untu mu sang Ibu...
Walau nan jauh di sana...
Rindu ku pada mu membuat Air mata ini menetes......
Ucapan Sejahtera dan Keselamatan untuk mu ku awali tulisan ini.....

Ibu.....
Ku tahu kali ini mungkin Ibu marah....
Namun,,,ku yakin kemarahan itu adalah awal dari butir kebahagiaan....

Ibu....
Aku tahu jika ibu mempunyai sejuta harapan pada ku....
Insya Allah harapan itu selalu ada untuk mu wahai Ibu....

Ibu....
Aku tahu kali ini Ibu mungkin kecewa dengan sikap ku...
Namu, aku juga tahu bahwa keputusan ini adalah untuk kebaika....
Aku Yakin, Insya Allah suatu saat Ibu akan tahu....

Ibu....
Aku tahu 9 Bulan lamanya aku di dalam Rahim mu...
Aku tahu selama di rahim mu,Ibu jaga aku dengan baik....
Aku tahu bahwa Ibu lahirkan aku dalam kesakitan yang bertambah-tambah...
Aku tahu darah mu melumuri ku ketika aku keluar dari rahim mu....
Aku juga tahu bahwa selama kecil ku Ibu selalu menjaga ku...
Aku tahu dalam kesakitanku Ibu selalu ada untuk ku....
Aku tahu selama kecil ku Ibu selalu merawat ku dengan baik,,,walau ketika itu aku serba dalam ketidaksempurnaan....
Aku juga tahu di setiap malam dan siang mu Ibu korbankan untuk ku...
Aku juga tahu jika disetiap sholat mu Ibu selalu medo'akan ku dengan segala keikhlasan...

Ibu....
Aku sekolah karna mu wahai ibu dan juga 3 Adek ku tercinta.....
Ku tetapkan azam ku untuk mu ketika ku pamit dari mu untuk kuliah.....
AKu sukses adalan berkat do'a ikhlas dari mu wahai Ibu..

Ibu....
Allah memberi ku sejuta impian untuk mu wahai Ibu dan Adek Ku....
Allah memberikan kesempurnaan kepada ku untuk mu wahai Ibu ku.....

Ibu....
Aku hanya bisa mengungkapakan isi hati ku melalui tulisan ini...
Aku tidak pernah menyampaikan ini melalui lisan ku...

Ibu...
Maafkan jika aku mengecewakan mu.....
Dengan segala kekuarangan ku...
Aku Ikhlas atas kekecewaan mu.....Aku Ikhlas jika Ibu marah pada ku....
Karna Ku tahu, Engkau sangat menyayangi ku.......

Ibu....
Dengan berlinangan air mata ku tulis untaikan kata-kata ini untuk mu.....
Karna ku tahun Keredhaan mu adalah keredhan Allah...

Anak mu tercinta....

Minggu, 23 Agustus 2015

Oleh: Muharrahman BS, SHI

Kalimat judul artikel ini sering kita dengar di lingkungan kita berada. Ada yang disampaikan oleh saudara, tetangga, guru, ustadz/h dan yang paling sering kita dengar adalah dari sang penceramah atau da’I serta para alim ulama. Kalimat yang terdengar sederhana ini namun cukup besar makna yang dikandung di dalamnya;

من عرف نفسه فقد عرف ربه

“Barang siapa mengenal dirinya, maka dia mengenal Rabb nya”

Sebahagian orang mengatakan bahwa kalimat di atas adalah hadits. Namun jika merujuk kepada sumbernya, pernyataan ini bukanlah sebuah hadist dari Rasulullah SAW. Ini adalah sebuah ungkapan seorang ulama. Menurut keterangan yang dapat dipertanggungjawabkan adalah pernyataan dari Yahya bin Mu’adz al-Razi.

Ibnu As-Sam’ani Rahimallah berkata; “Hadits ini tidak diketahui secara marfu’ (dari ucapan Rasulullah SAW), namun dikisahkan dari ucapan Yahya bin Mu’adz al-Razi. Imam An-Nawawi berkata; Hadits ini tidak tsabit/shahih dari Rasulullah. Selanjutnya Imam Ibnu Timiyyah berkata; bahwa kalimat ini merupakan hadits maudhu’. Demikian juga Al-‘Allamah al-Fairuuz Abaadiy berkata; bahwa hadits ini tidak berasal dari hadits-hadits Nabawiy, namun banyak manusia yang menjadikannya sebagai hadits yang dinisbatkan kepada Nabi Shallahu ‘Alaihi Wassalm, tidak shahih asal usulnya, melainkan ia diriwayatkan israilliyat.

Dalam kitab Hilyatul Auliyaa 10/208, perkataan ini juga dihikayatkan dari perkataan Sahl bin ‘Abdillah at-Tautariy dan dinukil tanpa sanad. Ibnu Hajar al-Haitami al-Makkiy dalam kitab Fatawa 1/677 telah ditanya mengenai hadist ini: dan beliau menjawab bahwa tidak ada asal-usulnya, melainkan dihikayatkan dari kalam Yahya bin Mu’adz al-Razi ash-Shufiy, maknanya adalah barang siapa mengenal dirinya dengan kelemahan, kefakiran, kekurangan, kehinaan, dan kerapuhan, maka ia telah mengenal Tuhannya dengan sifat keagungan Nya dan keindahanNya atas apa yang diharuskan ada pada keduanya.

Demikian sekilah asal-usul kalimat di atas. Sengaja penulis nukilkan terlebih dahulu agar nantinya menambah wawasan keislaman kita. Semoga Allah meridhai kita semuanya hingga yaumil akhir. Amin

Terlepas dari apakah itu hadist atau tidak, artikel yang sedang pembaca nikmati ini bukan sekedar menjelaskan sumber pernyataan tersebut, akan tetapi artikel ini coba penulis suguhkan buat kita semuanya tentang apa dibalik dari makna kalimat itu. Penulis yakin sobat semuanya sudah mengetahuinya, namun artikel ini coba penulis suguhkan dari sisi yang berbeda.

Mari kita ulang kembali pernyataan di atas; “Barang siapa mengenal dirinya, maka sungguh ia mengenal akan Tuhannya. Kalimat ini sangat sederhana bukan? Pernahkah kita merenungkan pernyataan ini? Kalimat ini meminta kita agar kita mengetahui diri kita sendiri supaya kita mengenal Allah SWT, Rabb kita, yang menciptakan manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan serta alam sementas ini. Sehingga timbul perenungan yang dalam. Dari apa kita diciptakan? Dan untuk apa kita diciptakan?

Sobat handai taulan, pertanyaan di atas sungguh sederhana bukan? Namun sudah sejauh mana kita memahami pertanyaan itu? Mari kita pahami dengan hati yang lapang seraya berdoa semoga Allah memberikan ilmu kepada kita sehingga kita bisa mengenal Allah dengan sebenarnya. In Syaa Allah...

Mari kita lihat sekilas tubuh kita yang sempurna ini. Sudahkan sobat melihatnya? Sempurna bukan? Dari kepala hingga kaki, Allah ciptakan sangat sempurna. Rambut yang hitam, kepala yang sempurna, tidak bulat dan tidak terlalu lonjong, telinga yang sempurna dengan sepasang daunnya, hidung yang sempurna dengan dua lobangnya, ada yang mancung dan ada yang pesek namun tetap sempurna, sepasang mata yang indah dipandang, ada yang kecoklatan dan ada juga yang kebiruan yang dihiasi dengan warna putih, sungguh sangan sempurna. Gigi yang putih, dengan sangat teratur Allah ciptakan sesuai dengan fungsinya masing-masing, dua pasang tangan dan kaki yang sempurna dengan berbagai organnya. Kemudian, coba kita lihat bagian dalamnya, otak yang super luar biasa, jantung yang terus memompa darah keseluruh tubuh tanpa hentinya, paru-paru yang terus bekerja tanpa berhenti sedetikpun untuk menyeimbangi pernafasan, kantong empedu, dan usus yang terus bekerja siang malam melebihi kerja mesin diesel listrik, saraf dan lain-lainya yang tidak bisa kita sebutkan hingga sel dari elemen tubuh paling kecil. Sangat sempurna, kesempurnaan yang tiada tara, kesempurnaan yang tiada lawan dibandingkan ciptaan manusia. Itulah cipta Allah SWT.

Allah sangat sempurna menciptakan tubuh manusia dibanding makhluk lainnya, sekalipun itu Malaikat. Namun perlu kita ingat bahwa manusia bisa saja lebih hina dibandingkan binatang atau iblis sekalipun, jika manusia itu tidak merenungi akan penciptaannya. Allah ciptakan manusia dari tidak ada menjadi ada. Manusia adalah makhluk-Nya yang mulia jika berkomitmen dengan tujuan diciptakan. Karena perjalanan hidup kita bukan hanya di dunia melainkan akan berakhir sampai alam akhirat. Ketahuilah! Bahwa hidupnya kita di dunia ini atas kehendakNya dan akhir dari kehidupan manusia di dunia ini juga bukan kehendak manusia, melainkan kehendak Rabb yang Mahaperkasa, Allah SWT.

Kemuliaan manusia bermula ketika Allah menghendaki akan penciptaan Adam as. sebagai khalifah-Nya di atas muka bumi ini dengan misi ibadah kepada-Nya sekaligus sebagai khalifah-Nya. Kehendak Allah ini berdasarkan ilmu dan perencanaan yang sangat matang. Oleh karena itu, ketika para malaikat mempertanyakan rencana Allah tersebut, Allah menjawabnya dengan firmannya; “Sungguh Aku mengetahui apa yang kalian tidak ketahui”(Qs. Al-Baqarah: 30). Allah memberikan kemuliakan kepada manusia tidak hanya karena subjectivitas Tuhan Yang Mahakuasa, akan tetapi kemuliaan itu diberikan terkait standar ilmiah rancangan penciptaan manusia itu sendiri. Baik itu fisik maupun non fisik, seperti akal, hati (qalbu), tanpa kehilangan syahwat dan nafsu hayawani. Manusia dianugerahkan kelebihan yang sempurna yang tidak diberikan Allah secara utuh dan lengkap kepada makhluk selain manusia. Di dalam al-Quran surat Al-Isra’ayat 70 ditegaskan bahwa Allah telah muliakan manusia, Allah angkat manusia di daratan dan di laut, Allah berikan rezki dari yang baik-baik dan Allah jualah yang telah memberikan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Allah ciptakan.

Dimensi penciptaan manusia dengan fisik amat sempurna yang harusnya menambah kedekatan kita kepada Allah, ditambah dengan dimensi spritual yang harusnya terus membawa kita semakin dekat dengan Allah, dan juga ditambah dengan dimensi emosional yang seharuskan hati kita terpaut pada Allah dengan kebiasaan hidup dengan akhlak yang hasanah. Selanjutnya manusia dilengkapi dengan dimensi intelektual yang tempatnya adalah bagian otak manusia, yang berfungsi sebagai pelita kehidupan dengan kebutuhan gizi; ilmu yang bermanfaat, khususnya ilmu mengenal kepada Rabbul Izzati, Tuhan sekalian alam, yaitu Allah SWT.

Jika kita merenungi hal itu, sudahkan kita bersyukur? Bukankah kita hamba yang lemah? Bukankah ilmu kita hanya secuil dibanding ilmu Allah? Adakah yang bisa menciptakan hal serupa seperti ciptaan Allah itu? Tidak ada, tidak ada sobat. Belum lagi jika kita merenungi akan Ruh yang Allah berikan dalam jasad kita ini dan insya Allah kita bahas paa artikel selanjutnya. Yang tidak seorang pun tahu dimana dan seperti apa ruh yang Allah titipkan dalam tubuh kita ini. Sungguh luar biasa. Mari kita renungi hal ini, sehingga semakin mendekatkan kita kepada Allah SWT. Dan tentunya mendapatkan seperti doa yang selalu panjatkan setiap hari, yaitu sukses dunia akhirat, sukses di atas segala jenis kesuksesan yang diidamkan setiap manusia:

ربنا أتنا فى الدنيا حسنة وفى الأخرة حسنة وقنا عذاب النار

Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.


Demkian artikel ini dibuat, semoga bermanfaat...

Wallahu a’lam

Selasa, 18 Agustus 2015

Oleh: Muharrahman BS, S.HI

Sholat berjamaah di masjid berpahala 25 atau 27 kali lebih besar daripada shalat sendirian. Mari kita lihat perbandingan antara sholat sendiri di rumah dengan sholat berjamaah di masjid. Mungkin semua kita sudah mengetahui nya. Namun tidak sedikit yang enggan menjalankannya, termasuk penulis sendiri yang kadang-kadang sering bolong dalam berjamaah. Semoga artikel singkat ini memotivasi kita untuk lebih giat lagi dalam melaksanakan sholat jamaah di Masjid. In Syaa Allah....

Sholat sendiri di rumah?
1x sholat fardhu sendiri dirumah = 1 derajatnya
1x sholat fardhu berjamaah dimasjid = 27 derajatnya
Sholat fardhu sendiri dirumah x 5 kali sehari = 5 derajatnya
Sholat fardhu sendiri dirumah x 5 kali sehari selama 5 hari = 25 derajatnya
Jika dilihat hitungan-hitungan kasar di atas bisa disimpulkan bahwa:
PAHALA 5 HARI SHOLAT FARDHU SENDIRI = 1 X SHOLAT FARDHU BERJAMAAH di Masjid.
Sholat fardhu berjamaah dimasjid x 5 kali sehari = 135
Saudara ku.. mari kita lihat pesan-pesan Rasulullah saw berikut:
Rasulullah SAW bersabda :

“Shalatnya seorang pria berjamaah pahalanya 25 derajat dibanding sendirian di rumah atau di pasar, yang demikian itu karena jika ia berwudhu dengan sempurna kemudian ia keluar rumah dengan satu tujuan shalat berjamaah di masjid, maka setiap langkahnya mengangkat satu derajat dan diampuni satu dosanya, dan selama ia di majelis shalat tanpa hadats didoakan para malaikat, “Ya Allah, ampunilah ia dan rahmatilah ia”, dan dianggap mengerjakan shalat sepanjang menunggu waktu shalat” (HR. Bukhari dan Muslim).

Shalat Jamaah lebih utama dua puluh tujuh kali dibanding shalat sendiri. Seseorang yang melaksanakan sholat secara berjamaah termasuk ke dalam tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah Subhanahu wa Ta'ala di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Yaitu mereka yang hatinya selalu terpaut pada masjid. Kemudian Shalatnya seseorang bersama seorang lebih utama dari shalat sendiri, dan shalat bersama dua orang lebih utama dari shalat bersama seorang, semakin banyak mereka berjamaah semakin dicintai Allah.

Ketika Rasulullah bertanya kepada para sahabat, dengan kalimat: “Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dengannya Allah akan menghapuskan dosa dan mengangkat derajat ?”; dan Para shahabat menjawab : "Tentu, Ya Rasulullah", Beliau bersabda " ....dan memperbanyak langkah menuju ke masjid". Ini artinya, semakin sering kita ke masjid untuk beribadah kepada Nya, maka Allah akan terus menghapuskan dosa kita, dan tentunya Allah jua akan mengangkat derajat kita. Setiap langkahnya seseorang yang diayunkan untuk melaksanakan sholat berjamaah ke masjid, maka akan menghapuskan dosa dan ditulis padanya satu kebaikan baik ketika ia pergi maupun ia kembali.

Di dalam hadits yang lain disebutkan bahwa wudhu yang disempurnakan dan kemudian berjalan untuk melaksanakan shalat fardu bersama dengan manusia secara berjama'ah atau di dalam masjid maka Allah Subhanahu wa Ta'ala juga akan mengampuni dosa-dosanya. Tidak hanya itu, Apabila salah seorang dari manusia duduk untuk menunggu shalat di masjid maka dia senantiasa dalam keadaan shalat selama ia tidak berhadats (dan) para malaikat akan mendo'akannya : "Ya Allah ampunilah dia, Ya Allah rahmatilah dia.

Kalau seandainya manusia mengetahui apa yang terdapat dalam adzan dan shaf pertama kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan melakukan undian niscaya mereka akan melakukannya. Kemudian Rasulullah menyampaikan; Apabila imam mengucapkan "ghairul maghduubi 'alaihim waladdhaliin" maka katakanlah "Amin" karena barang siapa yang aminnya bertepatan dengan aminnya para malaikat maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.

Di hadits yang lain, yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi. Nabi SAW menyampaikan kabar gembira bagi siapa saja yang melaksanakan sholat jamaah, khusus nya bagi seseorang yang tidak meninggalkan shalat berjamaah hingga 40 hari dan selalu mendapatkan takbir pertama bersama imam, di mana di tetapkan baginya dua pembebasan: yaitu Pembebasan dari api neraka dan pembebasan dari kenifakan. Orang yang sholat berjamaah juga akan dikaruniai dengan sinar yang sempurna di hari kiamat.

Sebahagian ulama menyampaikan akan wajibnya sholat berjamaah. Ibnu Al-Mundzir berkata dalam “Kitab Al-Ausath”, “Orang buta sekalupun wajib melaksanakan shalat berjama’ah, walaupun rumah mereka berjauhan dari masjid.” Hal ini menunjukkan akan wajibnya shalat berjama’ah: Sesungguhnya menghadiri shalat berjama’ah itu wajib hukumnya bukan sunnah.

Dalil yang menegaskan wajibnya shalat berjama’ah adalah sabda Rasulullah saw, “Barangsiapa mendengar panggilan untuk shalat dan ia tidak menjawabnya maka tidak sah shalat yang ia lakukan.” (HR. Muslim dalam “Al-Masajid” 665, diriwayatkan oleh yang lain-lain). Kemudian hadits ini mengarahkan ke arah tujuan tersebut kemudian ia berkata: Syafi’i berkata: Allah SWT mengingatkan shalat dengan adzan, firman Allah SWT, “Dan jika kalian dipanggil untuk melaksanakan shalat.” (QS. Al-Maidah: 87) dan firman Allah SWT, “Jika dipanggil untuk melaksanakan shalat di hari Jum’at maka bersegeralah kamu untuk mengingat Allah.” (QS. Al-Jumu’ah: 9), dan Rasulullah menjadikan adzan sebagai hal yang sunnah untuk memanggil shalat yang lima waktu, karena sifatnya yang demikian (adzan merupakan panggilan untuk melaksanakan shalat), maka tidak diperbolehkan untuk shalat yang lima waktu itu selain berjama’ah, sehingga tidak ada shalat yang didirkan selain dengan shalat berjama’ah, tidak ada keringanan bagi mereka yang dapat melaksanakan shalat berjama’ah untuk meninggalkannya kecuali bagi mereka yang mempunyai udzur.

Dalam satu hadits diriwayatkan bahwa Ibnu Ummi Maktum bertanya kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah sesungguhnya jarak antara rumahku dan masjid dibatasi oleh pohon, dapatkah aku jadikan alasan untuk melaksanakan shalat di rumah saja?” Rasulullah berkata, “Apakah kamu mendengar Iqamah?” Ia berkata, “Ya.” Rasulullah bersabda lagi, “Maka datanglah kamu ke masjid dan shalat berjama’ahlah kamu di sana.”

Ada masjid ayo dimakmurkan... jangan dibiarkan kosong begitu saja. Ketahuilah, suatu kaum, suatu desa, suatu negeri yang ingin mendapat barakah dari Allah, hendaklah bertaqwa kepada Nya. Kaum yang bertaqwa kepada Nya adalah kaum yang menjaga mesjid-mesjid mereka dengan selalu berjamaah di dalam nya. Kita sering mengatakan, mengaku, bahwa kita adalah golongan Ahlussunnah waljamaah, namun kita lalai, kita jarang sekali melaksanakan Sunnah Rasulullah yang satu ini. Bahkan ada yang selama hidup kita tidak perna berjamaah di masjid.

Saudara ku,,, Lihat lah gigi mu yang Allah ciptakan. Cantik bukan? Pernahkah kita berfikir jika Allah ciptakan gigi kita hanya bagian depan saja? Pernahkah kita berfikir jika Allah ciptakan gigi kita hanya bagian belakang saja? Pernahkah kita bayangkan jika Allah rontokkan gigi kita atau Allah hanya tinggal kan 1 saja??

Mungkin kita akan kesusahan jika Allah ciptakan hanya bagian belakang, atau bagian depan saja.. atau Allah rontokkan sebahagiannya. Begitulah berjamaah, sholat yang dilaksanakan secara berjamaah laksana gigi yang Allah ciptakan bagi kita. Gigi akan mudah mengunyah jika gigi masih tersusun rapi. Begitu juga sholat berjamaah, sholat yang dilakukan secara berjamaah akan memberikan energi positif bagi mereka yang melaksanakan dan tentunya bagi kaum yang selalu berjamaah di masjid, Allah akan bukakan pintu keberkahan dari langit dan bumi.

Wallahu a'lam

Selasa, 27 Januari 2015

Oleh: Muhar R

Istiqamah adalah anonim dari thughyan (penyimpangan atau melampaui batas). Istiqamah bisa berarti berdiri tegak di suatu tempat tanpa pernah bergeser, karena  kata istiqomah berasal dari kata “قام” yang berarti berdiri. Secara etimologi, istiqamah berarti tegak lurus. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, istiqamah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen.
Jika dilihat dalam arti yang lebih luas Istiqamah juga berati kemurnian tauhid (tidak boleh menyekutukan Allah dengan apa dan siapapun), komitment terhadap perintah dan larangan dan tidak boleh menipu, mengikhlaskan amal kepada Allah swt, melaksanakan kewajiban-kewajiban, melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksitan, komitmen terhadap syahadat tauhid sampai bertemu dengan Allah swt atau juga mereka beristiqamah dalam mencintai dan beribadah kepaada-Nya tanpa menengok kiri kanan.Perintah untuk istiqomah dalam tauhid dan ikhlas beribadah hanya kepada Allah semata hingga mati.

“Sesungguhnya mereka yang berkata: Allah adalah Tuhan kami kemudian mereka istiqamah..” (QS. Fussilat 41: 30); “Sesungguhnya orang yang menyatakan: Tuhan kami adalah Allah. Kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka berduka cita (QS. Ahqaf 33: 13)

Istiqamah memiliki arti yang sangat dalam. Dalam hadis disebutkan,  dari Abu `Amru - atau digelar juga Abu `Amrah - Sufian ibn Abdullah r.a. beliau berkata: "Aku berkata: Wahai Rasulullah! Ajarkan untukku dalam lslam suatu ucapan yang aku tidak perlu lagi bertanya kepada orang lain selainmu. Baginda bersabda: Ucapkanlah: Aku beriman kepada Allah. Kemudian hendaklah engkau beristiqamah."  Kalimat itu mengandung arti bahwa suatu ibadah yang dilakukan bukan hanya amalan itu besar, namun juga dijalankan secara terus-menerus dan selalu ditingkatkan. Hal ini disebabkan sikap istiqamah mempunyai derajat yang sangat tinggi.

Istiqamah  akan membentuk kualitas batin yang melahirkan sikap konsisten (taat) dan teguh pendirian untuk menegakkan dan membentuk sesuatu menuju pada kesempurnaan atau kondisi yang lebih baik. Sikap istiqamah hanya mungkin merasuki jiwa seseorang bila mereka mempunyai tujuan atau ada sesuatu yang ingin dicapai. Orang yang istiqamah sangat menghargai waktu: tanggung jawab dan disiplin, tidak menunda-nunda waktu.
Sifat istiqamah yang dimiliki seseorang akan mendatangkan rahmat  Allah dalam segala aktivitas kita. Hal ini diwahyukan Allah kepada Muhammad dalam al-Qur’an:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (QS. Ali Imran:102-103)

Ayat di atas mengisyaratkan bahwa ketegasan Allah mengingatkan kita untuk selalu bersifat istiqamah hingga akhir hayat dan selalu berpegang teguh dalam menjalankan syariat Islam, yaitu agama yang dibawa Muhammad melalui perintah Allah. Ayat diatas juga mengisyaratkan adanya pertolongan Allah bagi orang yang selalu bersifat istiqamah dalam menjalankan perintahNya yaitu berupa keselamatan dan petunjuk-Nya.

Istiqamah juga bermakna kesabaran. Istiqamah dan sabar merupakan satu-kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Tanpa istiqamah maka kesabaran juga tidak akan ada, begitu juga sebaliknya. Sikap istiqamah dan sabar  dalam menjalankan perintah Allah akan menjaga seseorang dari sifat boros, sifat zalim, penghapus dosa, dan tentunya akanmendatangkan pertolongan Ilahi.

“Maka tetaplah (istiqamahlah) kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang Telah Taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zhalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, Kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan. Dan Dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. Dan bersabarlah, Karena Sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan”. (Hud:112-115)

Ketika pertolongan Allah ada, maka apapun yang diharapkan seorang hamba, Allah dengan mudah mengabulkannya. Kita tahu ketika kaum muslimin menghadapi perang badar. Allah mendatangkan pertolongan-Nya, yaitu mendatangkan tentara malaikat, sehingga kaum muslimin memperoleh kemenangan. Namun kemenangan itu hanya sesaat. Hal  ini disebabkan hilangnya sikap istiqamah sebahagian kaum muslimin, pasukan muslim hilang konsentrasi pada tempat yang sudah diatur oleh Rasulullah, mereka lalai dengan harta rampasan ketika itu, hingga pasukan non-muslim melakukan serangan balik yang mengakibatkan tentara muslim banyak yang wafat.

Istiqamah juga akan mengatarkan seseorang kepada kesuksesan. Namun sebaliknya, ketika sifat istiqamah tidak dimiliki seseorang, maka sukses akan sangat jauh darinya. Misalnya saja anda menanam sebatang pohon mangga. Setiap hari anda siram, anda beri pupuk, anda cabut rumput yang ada dipangkal pohon tersebut, satu hari, dua hari, seminggu, sebulan, setahun, dua tahun, hingga pohon mangga itu berbuah dan anda panen tanpa lelah anda rawat dengan baik, maka anda akan memetik yang anda usahakan itu sesuai dengan apa yang telah anda lakukan. Namun sebaliknya,  anda menanam pohon mangga, namun karena mangga itu terlalu lama berbuah, lalu anda cabut, kemudian anda tanam pohon rambutan, tak lama kemudian anda cabut lagi dan anda ganti dengan pohon durian, lalu anda cabut lagi dan anda ganti dengan pohon kelapa begitu seterusnya anda tanpa istiqamah terus anda cabut dan ganti pohonnya, satu tahun, dua tahun, tiga tahun hingga sepuluh tahun pun anda tidak menghasilkan apa-apa.Bayangkan jika anda melakukan hal tersebut?

Oleh karena sifat istiqamah itu sangat penting, ada beberapa hal yang perlu dilakukan hingga  seorang muslim bisa mempertahankan nilai ketakwaan dalam jiwanya, bahkan mampu meningkatkan kualitasnya hingga kemenangan dicapai, yaitu Muraqabah (perasaan seorang hamba akan kontrol ilahi dan kedekatan dirinya kepada Allah); Mu’ahadah (iltizamnya seseorang atas nilai-nilai kebenaran Islam); Muhasabah (usaha seorang hamba untuk melakukan perhitungan dan evaluasi atas perbuatannya); Mu’aqabah (pemberian sanksi oleh seseorang muslim terhadap dirinya sendiri atas keteledoran yang dilakukannya); Mujahadah (optimalisasi dalam beribadah dan mengimplementasikan seluruh nilai-nilai Islam dalam kehidupan).
Nah, apakah anda sudah termasuk ke dalam orang-orang yang istiqamah? Jika belum, pupuklah hingga sifat tersebut betul-betul sudah merasuki jiwa anda, karena di dalamnya ada sejuta kemenangan dan kesuksesan.

Allahu A’lam....
Oleh: Muharrahman BS, S.HI [1]

Kesabaran merupakan salah satu ciri utama ketaqwaan seseorang pada Allah Swt karena sifat sabar dianggap sebagian dari iman. Para ulama pun mengatakan bahwa kesabaran dalam Islam itu adalah bagian dari keimanan.Sehingga disimpulkan bahwa sabar itu sangat berkaitan erat dan tidak dapat dipisahkan dari keimanan.
Amru bin Usman menjelaskan bahwa kesabaran dalam Islam itu berupa keteguhan bersama Allah dan menerima cobaan dari Allah dengan lapang dada. Hal yang sama pun dikatakan oleh Imam Al-khowas. Ia mengatakan bahwa kesabaran merupakan refleksi dari keteguhan dalam rangka merealisasikan Al-Quran dan sunnah.Dalam sebuah hadisnya Rasulullah ketika pada suatu hari Rasulullah saw ditanya tentang iman, beliau menjawab: Iman adalah sabar.
Al-Imam Ahmad  dalam buku Madarijus Salikin mengatakan bahwa kata sabar di dalam Al-Qur’an disebut sebanyak 74 kali. Sedangkan Ibnul Qoyyim mengutip perkataan Imam Ahmad: Sabar di dalam al-Qur’an terdapat di sekitar 90 tempat. Hal yang sama juga disampaikan oleh Abu Thalib al-Makky mengutip sebagian perkataan sebagian ulama: “Adakah yang lebih utama daripada sabar, Allah telah menyebutkannya di dalam kitab-Nya lebih dari 90 tempat. Kami tidak mengetahui sesuatu yang disebutkan Allah sebanyak ini kecuali sabar.”
Ketika kesabaran telah menjadi darah daging dalam diri seseorang, maka benih-benih kesuksesan akan diperolehnya. Kesabaran akan membuat seseorang menjadi bijaksana. Sikap Sabar adalah kualitas awal yang tampak   pada seorang yang sukses.Allah menganugerahi kejeniusan tanpa kesabaran bagi seseorang, dan kesabaran bagi orang lain tanpa kejeniusan. Prestasi yang bisa diraih oleh gabungan kedua hal tersebut seringkali mengejutkan.Sebuah penemuan yang berharga, hal tersebut lebih merupakan hasil kesabaran dibandingkan dengan keahlian lain yang dimiliki seseorang. Salah satu keahlian paling membantu yang dapat dimiliki oleh seseorang jika ia ingin tumbuh adalah kesabaran.Kesabaran tidak hanya mengantarkan seseorang kesuksesan di dunia akan tetapi juga ke akhirat. Bahagia dunia dan juga sukses untuk menetap di syurga-Nya sebagai insan kamil, manusia sempurna di hadapan Alllah Swt.
Dalam mengarungi kehidupan sifat sabar sangatlah penting; seseorang tidak bisa segera memanen tanaman yang ia baru tanam. Seseorang yang memiliki kesabaran, dapat memiliki apa yang ia inginkan.

Dan Dia memberi balasan kepada mereka atas kesabaran mereka dengan surga dan (pakaian) sutera. (QS. Al-Insan: 12)

Keunggulan yang diterima oleh orang lain dibandingkan dengan orang lain adalah tetap menjaga diri untuk tetap tenang dan memegang kendali (bersabar) dalam setiap keadaan sehingga Allah akan menurunkan malaikat-malaikat-Nya untuk memberikan ucapan selamat dan keberkahan kepada mereka yang bersabar.

Dan para malaikat masuk kepada tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan); keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. (QS. Ar-Ra’d:23-24)

Sifat sabar dapat sebagai  perlindungan dari kesalahan, hal ini sama seperti pakaian melindungi seseorang dari rasa dingin. Jika seseorang mengenakan lebih banyak baju ketika udara semakin dingin, rasa dingin tidak akan memiliki pengaruh terhadapnya. Jika seseorang  menumbuhkan rasa sabar dalam dirinya ketika melakukan kesalahan, kesalahan tersebut tidak akan berdampak apapun pada dirinya.

Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat; sesungguhnya Allah adalah beserta  orang-orang yang sabar. (QS. Albaqarah: 153)

Kesabaran juga tidak dapat diperoleh dalam waktu sesaat, satu hari, dua hari atau tiga hari, akan tetapi butuh waktu dan harus dipupuk dengan selalu mengingat akan ciptaan Allah. Karena sabar itu lahir dari-Nya dan merupakan pemeberian-Nya yang dititipkan kepada seseorang. Sifat sabar harus dibangun dengan baik seperti halnya dengan membangun otot, setiap hari harus dilatih.

Dan sungguh akan Kami berikan ujian kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.(QS. Albaqarah :155)

Kehidupan dapat mengajarkan kita menjadi lebih sabar. Dalam masa-masa sulit kadang kita tidak memiliki pilihan lain selain untuk bersabar. Masa-masa inilah yang akan memperkuat kesabaran kita sehingga kita benar-benar dianggap oleh Allah sebagai orang yang sukses dan  beeriman.

Dan orang-orang yang sabar dalam musibah, penderitaan dan dalam peperangan mereka itulah orang-orang yang benar imannya, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 177).

Para ilmuan sukses dalam penelitian-peneliatiannya karena sifat sabar yang tertanam dalam diri mereka. Thomas Alva Edishon, 999 kali gagal dalam penelitiannya, namun karena kesabarannya dan yakin akan kesuksesan hingga yang keseribukalinya ia sukses dalam pengembangan penelitiannya, penemu lampu. Albert Esnten sukses sebagai fisikawan karena kesabarannya, sehingga membuat ia dikenang dalam sejarah fisika. BJ Habibie sukses dalam perhitungan pergerakan sayap pesawat sehingga ia sukses sebagai bapak Pesawat Indonesia dan berhasil membuat pesawat di Indonesia.
Para Nabiyullah sukses menyebarkan Agama Allah karena sifat sabar yang tertanam dalam diri mereka. Lebih 25 tahun Ya'kub sabar menunggu pulang anaknya yang hilang, sampai berputih mata; akhirnya anaknya Yusuf kembali juga. (Beliau berkata:Sabar yang indah, dan Allahlah tempat memohon pertolongan." (QS. Yusuf: 83)). Tujuh tahun Yusuf menderita penjara karena fitnah; dengan sabarnya dia jalani nasibnya; akhirnya dia dipanggil buat menjadi Menteri Besar.Bertahun Ayub menderita penyakit , sehingga tersisih dari anak isteri; akhirnya penyakitnya disembuhkan Tuhan dan setelah pulang ke rumah didapatinya anak yang 10 telah menjadi20, karena semua sudah kawin dan sudah beranak pula. Nabi Ibrahim dapat menyem­purnakan kalimat-kalimat ujian Tuhan karena sabar. Demikianlah Musa de­ngan Bani-Israil. Ismail membangun angkatan Arab yang baru. Isa Almasih dengan Hawariyin semuanya dengan sabar. Akan tepai Nabi Yunus nyaris kena hukuman karena tidak sabar. Ditinggalkannya kaumnya karena seruannya tidak diperdulikan. Maka buat melatih jiwa dia ditakdirkan masuk perut ikan beberapa hari lamanya. Tetapi keluar dari sana dia membangun diri lagi dengan kesabaran.
Rasulullah Muhammad SAW adalah Nabi yang paling sukses dalam menyebarkan Agama Islam. Hal ini karena sifat sabar yang tertanam dalam diri beliau dan diaplikasikan dalam setiap pergaulan. Sekalipun dicaci, dihina, dilempari kotoran, dan bahkan dibilang gila sekalipun beliau tetap bersabar atas hal itu. Ketika Rasulullah sedang duduk-duduk di tengah para sahabatnya, salah seorang pendeta Yahudi bernama Zaid bin Sa’nah masuk menerobos barisan jama’ah yang melingkarinya, seraya menyambar kain Rasulullah dan menghardiknya dengan kasar. Katanya, “Ya Muhammad! Bayarlah hutangmu. Kamu keturunan Bani Hasyim biasa memperlambat pelunasan”. Umar yang melihat peristiwa itu langsung bangkit dan menghunus pedangnya, seraya memohon iin. Ucapnya, “Ya Rasulullah, ijinkanlah aku memenggal leher bedebah ini!”Tetapi Rasulullah bersabda, “Ya Umar, aku tidak disuruh berdakwah dengan cara begitu. Antara aku dan dia memang sedang membutuhkan kebijaksanaanmu. Suruhlah dia menagih dengan sopan dan ingatkanlah aku supaya melunasinya dengan baik. Dan Akhirnya karena sifat sabar yang dimiliki Rasulullah, ia masuk Islam ketika itu juga.Karena Allah sangat mencintai orang-orang yang bersifat sabar sehingga apapun yang diinginkan akan dikabulkan oleh-Nya.

Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An-nahl:96 )

Sifat sabar tidak hanya diaplikasikan ketika mendapat musibahatau kesusahan dalam mengarungi pelitnya kehidupan, akan tetapi dalam segala hal, namun yang terpenting adalah bersabar terhadap diri sendiri. Jangan sampai sifat keberanian hilang karenamenyadari ketidaksempurnaan dalam diri, sebaliknya berpikirlah untuk memperbaikinya – setiap hari mulailah dengan baru sehingga kesuksesan dapat diraih. Kecintaan Allah terhadap orang yang bersifat sabar sangat menjanjikan seseorang untuk menggapai kesuksesan.

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang sabar. (QS Ali Imran:146). Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (Q.S. Al-Kahfi: 28)





[1] Muharrahman BS, SHI merupakan salah satu alumni Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry pada Jurusan Ahwal Al-Syakhshyyah dan sekarang bekerja di Indonesia Juara Fundation Cabang Aceh (salah satu mintra Rumah Zakat) dan berkantor di Rumah Zakat Cabang Aceh sebagai Coordinator Project Orphans Kafalah Program. Ia lahir di Desa Bakau Hulu Kecamatan Labuhanhaji Kabupaten Aceh Selatan pada 05 September 1988. Ia memulai studi di IAIN Ar-Raniry pada Tahun 2007 dan menyelesaikan studi S1 pada tahun 2011 dengan predikat istimewa.

Senin, 26 Januari 2015

Adalah Luqman Hakim yang telah memberikan teladan yang baik sebagai orang tua.
Ia menanamkan nilai-nilai kebajikan kepada anaknya dan salah satunya adalah larangan menyekutukan Allah SWT.

Kisahnya.
Di dalam Al Qur'an terdapat beberapa ayat yang menyebutkan nama Luqman Hakim.
Allah SWT berfirman,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Artinya:
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (QS. Luqman: 13).

Dalam sebuah riwayat yang diceritakan, pada suatu hari Luqman Hakim mengadakan perjalanan ke luar kota bersama putranya sambil menaiki seekor keledai. Pada saat ia masuk ke dalam pasar, anaknya mengikutinya dari belakang. Melihat tingkah laku Luqman itu, sebagian orang berkata, "Lihat, itu orang tua yang tidak tahu diri, dia enak-enakan naik keledai, sementara anaknya dibiarkan berjalan kaki."

Naik Keledai.
Luqman kemudian berhenti sejenak sambil memperhatikan perkataan orang yang didengarnya.

Kemudian Luqman turun dari keledainya, lalu diletakkan anaknya di atas keledainya. Ia kemudian melanjutkan perjalanannya kembali.

Di tengah perjalanan, kembali beberapa orang melihatnya. Kemudian mereka pun usil dengan mengomentari keberadaan Luqman.
"Lihat, orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya enak-enakan menaiki keledai, sungguh kurang ajar anak itu," kata orang tersebut.

Mendengar kata-kata itu, Luqman kembali berhenti sebentar. Ia kemudian ikut menaiki keldai itu bersama anaknya. Namun demikian beberapa orang yang lain kembali mengoloknya.
"Lihat itu, dua orang menaiki seekor keledai, sungguh tidak punya rasa kasihan menyiksa keledai itu," kata orang yang lain.

Luqman sedikit kesal dengan komentar orang-orang yang ditemuinya.

Ia merasa tidak pernah merasa benar di mata orang-orang itu. Tetapi, untuk kesekian kalinya, Luqman dapat menerima ejekan itu. Ia kemudian berhenti lagi dan turun dari keledai bersama anaknya. Luqman dan anaknya berjalan kaki sedangkan keledainya hanya dituntun saja. Akan tetapi belum jauh ia melangkah, ungkapan miring kembali diterimanya.
"Sungguh dua orang aneh berjalan kaki, padahal mereka membawa seekor keledai, kenapa tidak dikendarai saja," komentar orang yang lain lagi.

Nasehat Bijak.
Luqman dapat mengambil hikmah dari komentar orang-orang tersebut.
Dirinya kemudian menasehati anaknya tentang berbagai sikap manusia dan sesuatu yang diucapkannya.

"Sesungguhnya tiada terlepas seseorang itu dari percakapan amnusia. Maka bagi ornag yang berakal, tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan hanya kepada Allah SWT saja. Barang siapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam tiap-tiap masalah," tutur Luqman kepada anaknya.

Kemudian Luqman Hakim berpesan kepada anaknya,
"Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal supaya kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tiadalah orang fakir itu melainkan tertimpa kepadanya tiga perkara, yaitu tipis keyakinan (iman) tentang agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu dan diperdayaiorang), dan hilang kemuliaan hatinya (kepribadiannya), dan lebih celaka lagi daripada tiga perkara itu adalah orang-orang yang suka merendah-rendahkan dan meringan-ringankannya."

Dalam kesempatan lain, Luqman juga berpesan kepada anaknya aga tidak menyekutukan Allah SWT, sesungguhnya ia telah berada pada kezaliman yang besar.

Dikutip dari Mr. Google